Selasa, 29 Desember 2009

menegentaskan kemiskinan lewat kedermawanan sosial

Mengentaskan Kemiskinan Dengan Kedermawanan

Oleh : Muhammad Ruslan/Etos Makassar08

Bangsa kita adalah bangsa yang penuh dengan kemajemukan, dari selatan ke utara, dari timur ke barat merupakan fenomena dengan berbagai konsep perbedaan baik terkait dengan diferensiasi seperti ras, agama hingga merembes ke rana kultural begitupula pada tataran stratifikasi yang berbeda hingga menimbulkan kesenjangan yang begitu mencolok antara kaum miskin dan kaum yang dianggap berkecukupan. Fenomena kemiskinan merupakan problematika bangsa yang sampai sekarang ini menjadi sesuatu yang sungguh sakral yang begitu sulitnya untuk dihilangkan. Sudah puluhan tahun bangsa ini telah menyatakan diri sebagai Negara merdeka, tapi kemiskinan seolah – olah merupakan penyakit bangsa yang diwariskan oleh penjajah yang sampai saat ini belum ada yang mampu untuk menangkal permasalahan ini. Maka tak heran, ketika sebagian kaum intelektual mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya telah terjerumus dalam rantai kemiskinan yang tidak akan mampu lagi untuk disterilkan, dengan berdalil pada argumentasi bahwa kemiskinan yang terjadi di Indonesia tiada lain adalah konteks kemiskinan struktural, dimana kemiskinan structural itu sendiri merupakan konsep kemiskinan yang terbentuk atas struktur dalam hal ini adalah kebijakan pemerintah. Hingga kemudian orang miskin yang secara terus menerus justru melahirkan orang miskin baru inilah yang disebut sebagai lingkaran setan kemiskinan.

Sebenarnya sungguh ironis, ketika bangsa ini dengan mayoritas beragama islam,dimana dalam konsep konstruk pemikiran dalam islam itu sendiri merupakan ajaran yang kedatangannya merupakan petunjuk bagi semua manusia untuk lepas dari segala jenis problematika dunia, termasuk kemiskinan. Meskipun sangat jelas didalam sebuah hadist Rasulullah SAW yang dijadikan sebagai bagian dari konsep islam terkait dengan kemiskinan yang intinya bahwa tidak sempurna iman seseorang ketika tetangga dan sekitaranya lapar disaat ia kenyang. Begitu pula sejarah mencatat abu dzar al ghifary yang dianggap sebagai pelopor sosialis islam dalam tindakan perlawanannya atas orang yang mereka anggap kapitalis dalam menumpuk-numpuk harta ditengah kemiskinan yang marajela dengan sebuah jargon berbunyi ‘’orang kaya, bantulah kaum miskin’’. Tapi permasalahannya kemudian, kenapa dinegeri yang mayoritas islam sendiri justru kemiskinanlah sebagai permasalahan yang fundamental dengan tingkat kemiskinan yang begitu tinggi.

Itulah realita bangsa sampai sekarang ini, tapi sebenarnya atas dasar konsep islam itu sendiri, secara pribadi saya bisa katakan bahwa salah satu alternative untuk menghilangkan dalam hal ini adalah mengurangi kesenjangan tersebut adalah cukup lewat sikap kedermawanan sosial. Jadi bisa dikatakan bahwa tidak mampunya memutus rantai kemiskinan di Indonesia itu menandakan bahwa tingkat kedermawanan sosial masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Indonesia dalam era modern ini, sudah terjangkit dengan virus kapitalis yang telah merubah paradigma masyarakat termasuk jajaran birokrasi dalam hal ini adalah pemerintah. Sehingga kemudian paradigma yang terbentuk adalah paradigma individualistik, yang merupakan konstruk pemikiran yang lebih mementingkan kepentingan golongan dan bahkan cenderung mengabaikan kepentingan sosial dan individu lainnya. Dan ini telah terjadi dikota-kota besar, bahkan sesama tetanggapun terkadang tidak saling mengenal apa lagi ingin saling membantu, semuanya telah disibukkan dengan kepentingan individu masing-masing. Bahkan kemudian permasalahan dalam hal ini sikap individualistic juga telah merambah ke masyarakat desa yang dulunya dikenal dengan budaya sosialnya yang tinggi termasuk tingka gotong royong masyarakat yang kuat, tapi realita menjawab konsep seperti itu telah berubah drastis yang menandakan hilangnya budaya dan tradisi berharga masyarakat bangsa yang sebelumnya merupakan budaya yang membetuk jati diri bangsa Indonesia.

Kedermawanan merupakan frasa kata yang cukup mempunyai makna yang luas dan universal yang merupakan kata yang mengindikasikan sebuah karakter yang mempunyai relevansi dengan sikap kepedulian manusia atas sebuah respon. Dalam teori deontology, teori utilitarisme dan teori etika lainnya sepakat bahwa kedermawanan adalah kebaikan. Dan itu tidak lepas dari nilai keikhlasan yang mengawal kedermawanan manusia. Kedermawanan sebenarnya tidak cukup ketika kita hanya memaknai sebagai bentuk pemberian materi sebagai wujud bantuan kepada orang lain, tapi jauh lebih luas makna yang sebenarnya terkandung dalam kata tersebut. Keikhlasan merupakan basis kedermawanan, dimana keikhlasan dapat didefinisikan sebagai konsep kebertindakan atas kerelaan tampa berharap muncul umpan balik dalam hal ini adalah pamrih, dan itupula yang disebut sebagai sikap dermawan .Bahkan dalam islam mendoakan orang lain atas dasar keikhlasan merupakan bentuk sikap kedermawanan, begitu pula pemerintah yang dianggap dermawan ketika kebijakan yang diusung itu terlepas dari kepentingan sesaat atau kepentingan golongan mereka tapi semata-mata untuk kemaslahatan rakyat. Sehingga seandainya semua pihak mendasarkan tindakan mereka atas sikap kedermawan, dan pelaksanaan dari pemahaman kebaikan itu diterapkan dengan baik maka problematika rantai kemiskinan dapat terputuskan atas dasar kedermawanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar