
m.ruslan-hmi@yahoo.co.id
Esensi penciptaan manusia
Penciptaan Adam a.s.
Manusia merupakan makhluk pilihan yang diciptakan oleh sang maha pencipta, dengan berbagai kesempurnaan yang dimiliki jika kita melihat makhluk tuhan disisi lain, Allah swt menciptakan adam sebagai manusia pertama dimuka bumi ini diciptakan dari tanah liat ‘’engkau ciptakan aku dari api sedang dia engakau ciptkan dari tanah.’’(QS.Al-A’faf:12) juga :’’dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.’’(QS.Al-Mu’minun:12), pula ayat :’’sesungguhnya kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.’’(QS.As-Shafaat:11).
Sebenarnya Adam a.s. diciptakan dari tanah liat yang kering berasal dari lumpur hitam, sebagaimana firmanya ‘’dan ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat:’’sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaanku), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.’’(QS.Al-hijrs:28-29)
Jadi beberapa firman diatas dapat kita korelasikan tentang prosedur penciptaan manusia bahwasanya Adam a.s. diciptakan berawal dari debu, kemudian dicampur dengan air hingga menjadi gumpalan tanah, lalu gumpalan tanah tersebut dihitamkan dan dibiarkan bau sehingga menjadi lumpur hitam, yaitu tanah hitam yang telah berubah baunya. Ibnu abbas berkata’’adalah tanah basah lagi berbau busuk’’.
Kemudian lumpur hitam ini kering, sehingga menjadi tembikar (shalshal).salshal adalah tanah kering bisa berbunyi dan bersuara jika ditiup. Oleh sebab itu diperumpamakan dengan tembikar yaitu tanah setelah dipanaskan dengan api.
Sebagian ulama, diantaranya mujahid dan al-kisa’I menafsirkan shalshal dengan tanah bau, yang diambil dari perkataan orang arab:daging yang telah berubah warnanya dan baunya yang busuk. Jadi dikatakan makna shalshalin min hama’I masnun itu tanah liat hitam yang bau, kemudian cair menjadi lumpur, karena itu, jika tanah kering(shalshal) diumpamakan tembikar. Jadi unsure utamanya dalam penciptaan manusia adalah tanah.
Adapun untuk cucu dari Adam a.s. termasuk kita ini tercipta dari sel-sel sperma, Allah swt berfirman ‘’dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani(yang disimpan)dalam tempat yang kokoh didalam rahim.’’ Artinya disini allah swt mengkorelasikan proses penciptaan adam dan cucunya, terlihat pada saat penciptaan adam a.s. lewat lumpur hitam, secara ilmiah terbukti bahwa lumpur hitam busuk itu mengandung sel-sel atau bakteri, sel itu lah yang menjadi kandungan dari air mani sebagai unsure penciptaan cucu adam.
Penciptaan Hawa
Proses dan unsure penciptaan Siti Hawa tidak terlalu disinggung dalam Al-Quran, firman Allah swt ‘’Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari pada keduanya Allah menciptakan istrinya…’’(QS.Annisa:1)
Al-baqir mengatakan, hawa tercipta dari sisa tanah liat penciptaan Adam agar dapat menentramkan jiwanya. Maka, makna firman Allah swt ‘’dan dari keduanya allah menciptakan istrinya.’’
Sebagian kelompok lain berkata, bahwa hawa diciptkan berasal dari tulang rusuk Adam, sebagaimana ungkapan umar dari Ibnu abbas dan Ibnu mas’ud berkata ‘’tatkala allah swt, menempatkan adam disurga, ia berjalan kesepian. Maka tatkala ia tertidur,allah swt menciptkan hawa dari tulang rusuk sebelah kirinya yang bengkok agar dapat hidup tentram dan penuh kasih saying bersamanya, tatkalah terbangun, maka ia terperanjat melihat hawa dihadapannya,seraya berkata ‘siapakah engkau?’ hawa menjawab,’saya adalah wanita yang diciptakan dari tulang rusukmu agar engkau hidup tentram bersama saya.’’
II. Dimensi manusia
Manusia secara fitrawi merupakan mahkluk yang senantiasa menuju pada suatu perjalanan untuk insan kamil atau dengan kata lain bahwa manusia senantiasa menuju pada sebuah kesempurnaan sebagai mana manusia itu sendiri. Allah swt menciptkan manusia dengan dua dimensi utama yaitu antara dimensi jasadiya dan ruhaniah atau kejiwaan, antara dua dimensi merupakan suatu koherensi yang takkan pernah terpisah selama kita masih dikatakan hidup atas khendak tuhan. Didalam pergerkan dua dimensi mempunyai system dimana jasadiyah ibaratkan sesuatu yang bergantung pada jiwa sebagaimana manusia bergantung pada tuhannya, artinya jasad melakukan prosesi gerak itu karena perintah dari jiwa yang merupakan pengendali dari jasad.
Meskipun esensi jiwa itu kita tak sampai disitu, jiwa juga mengundang suatu hal yang polemic bagai para pemikir termsuk filosof dan ahli fi qh, tapi esensi dari jiwa itu salah satu rahasia tuhan, sebagaimana tuhan berkata bahwa dia memberikan kita pengetahuan yang sangat sedikit tentang ruh, meskipun sebenarnya sebagian pemikir mengidentikan antara jiwa dan roh, adapula yang menganggap berbeda dan cendrung pada bahwa jiwa itu tiada lain adalah akal (wallahu a’lam). Meskipun dia adalah akal, tapi akal pun terbatas sebagaiman tuhan mengatakan bahwa dia itu bersembunyi dari akal, sebagaimana ia bersembunyi dari penglihatan manusia.
III. Citra tuhan dan citra manusia
manusia dalam penciptaannya secara filosof mempunyai dua komponen utama yang menyusun yaitu antara citra universum dengan citra ketuhanan, Allah swt menciptkan segala hal yang ada dimuka bumi ini, dan dengan kemungkinan manusia takkan mampu untuk memahami dan mengenal semua ciptaan yang ada oleh karena itu karena ingin menjadikan manusia sebagai khlifah dimuka bumi ini maka allah swt, mengkaruniai manusia bukan hanya akal sebagai monitoring dalam perjalanan untuk menimbang benar dan salah nya sesuatu dan baik buruknya sesuatu, tapi allah swt, meringkas segala apa yang ada dibumi untuk dimasukkan dalam unsure jiwa dan raga manusia sebagaimana yang dikatakan Al-Gazali yang tersirat dalam buku’’manusia sempurna’’ Ibnu Arabi menjelaskan bahwa unsur yang ada dalam alam ini merupakan sebuah duplikat semua teringkas dalam jiwa dan raga manusia atas karunia allah swt, semua unsur kekuatan dimiliki oleh manusia, ini merupakan bukti kesempurnaan manusia jika kita bandingkan dengan mahkluk tuhan lainnya.
Kekuatan api sebagaimana manusia mampu merasakan panas dalam jasadnya, seperti halnya yang terjadi pada nabi Ibrahim ketika ia dibakar, tapi ia mampu menguasai api itu dengan kekuatan yang dalam tubuhnya lewat izin Allah swt, yang maha menguasai segala sesuatu, kekuatan angin ada dalam diri manusia sebagaimana dia mengeluarkan dan memasukkan angin dalam tubuhnya, begitu pula air,petir dll. Bahkan didalam tubuh manusia juga terdapat komponen nabati sebagaimana ia tumbuh seperti tumbuhan, unsure hewani sebagaimana nafsu yang melekat, dan unsure malaikati sebagaimana iman dan akal yang ia miliki.
Jadi juga didalam tubuh manusia ada unsur citra tuhan sebagaimana inti sabda rasulullah, bahwa tuhan menciptakan adam dalam citranya, ini sangat berkaitan dengan sabda rasulullah yang lain mengatakan bahwa jika ingin mengenal tuhanmu, maka kenalilah dirimu terlebih dahulu. Konsep ini memberikan kita sebuah proses pemikiran yang mendalam untuk mengenal yang namanya sang khaliq.
Secara filosofis proses pengenalan diri merupakan awal untuk kita mengenal tuhan karena sebagaimana dikatakan tadi bahwa unsure manusia itu terdiri dari ringkasan dari semua ciptaan termasuk alam, karena antara alam dan tuhan merupakan suatu konherensi yang tak dapat dipisahakan dalam artian bahwa sebagaimana ia merupakan indikasi tentang adanya diluar dari diri sendiri yang meng’ada’kannya.
Proses pengenalan diri dapat dilakukan dengan proses perenunga, bahwa dapat kita berada dengan sendirinya? Kenapa misalnya indera kita terbatas? Kenapa kemampuan kita terbatas, jadi sedikit indikasi bahwa keterbatasan merupakan esensi dari wujud kontingen yang menandakan bahwa unsure yang terbatas itu merupakan unsure yang tidak sempurna, karena kita tidak sempurna berarti ada yang sempurna dari kita, yang tidak tersusun, tidak terbatas, dan merupakan sebab pertama dari segala sebab yang tidak terikat dalam ruang dan waktu.
IV. Manusia dan tuhan
Dalam mazhab pemikiran Mulla Sadra, wujud makhluk, jika dibandingkan dengan wujud Tuhan bukanlah wujud yang hakiki. Makhluk disebut sebagai bayangan, citra dan manifestasi. Makhluk ini secara hakiki tak menampakkan dirinya sendiri tapi menampakkan Tuhan. Makhluk adalah citra Tuhan, bayangan Tuhan dan manifestasi Tuhan. Makhluk bukanlah sesuatu wujud mandiri dimana dengan perantaraannya Tuhan tercitrai dan terbayangkan, tetapi dia adalah citra dan tajalli Tuhan itu sendiri. Dalam aliran filsafat, secara umum dikatakan bahwa wujud terbagi atas dua yaitu wujud Tuhan dan wujud makhluk, dengan perbedaan bahwa wujud Tuhan meniscaya dengan sendirinya (swa-wujud), tak terbatas, azali dan abadi, dan sementara wujud makhluk bergantung kepada-Nya, terbatas dan baru tercipta (hadits). Cara penjabaran seperti ini, juga digunakan oleh Mulla Sadra di awal pembahasannya tentang wujud, tapi secara perlahan-lahan dan sistimatis - setelah kajiannya tentang prinsip kausalitas, wujud hubungan, kebergantungan hakiki wujud kuiditas dan kehakikian wujud – dia kemudian mewarnai kajian-kajian filosofisnya dengan warna yang berbeda dari filsafat umum dan mengubah pandangannya secara ekstrim tentang hubungan Tuhan dan selain-Nya.
V. Definisikesempurnaan
Kesempurnaan (al kamal) merupakan sebuah karakter (yaitu suatu kualitas positif) yang berada dalam wilayah eksistensi. namun apabila kita ingin membandingkan antara sesuatu yang merupakan suatu eksistensi dengan obyek selainnya. Namun pada saat yang sama, ia tidak dianggap sebagai kesempurnaan apa bila dibandingkan lagi dengan kelompok lainnya (dalam kelompok ke dua). Lebih jauh, ia mungkin dianggap sebagai kekurangan atau bahkan sesuatu yang mengurangi nilai keberadaan (wujudiyah) atas eksistensi yang disandangnya. Contohnya, rasa manis dianggap sebagai kesempurnaan bagi sebagian buah seperti anggur dan semangka, namun pada saat yang sama kesempurnaan buah asam justru terletak pada rasa asamnya.
Rahasia hal diatas terletak pada suatu kenyataan bahwa suatu wujud mempunyai batasan esensial (al-hadd al mahawi) tertentu yang hanya ia miliki sendiri, dan wujud itu akan mengalami perubahan menjadi wujud atau jenis lain jika ia ‘melampaui’ dari batasan tersebut. Suatu esensi (mahiyah) akan memiliki kesesuaian dan keserasian berdasarkan tabiat dan karakter dengan sejumlah sifat tertentu. Kesempurnaan hakikat suatu eksistensi apapun sesungguhnya lebih merupakan sifat, atau sifat-sifat yang menjadi tuntutan atas suatu aktualisasi akhir dari suatu eksistensi. Sedangkan perkara lain (yang dianggap sempurna), sesuai dengan keadaan atsar (pengaruh) yang dimilikinya dalam membantu peraihan kesempurnaan, sesungguhnya merupakan pendahuluan (mukadimah) bagi kesempurnaan yang sesungguhnya (atas eksistensi yang bersangkutan).
VI. Mencari-Kesempurnaan
Jika kita amati berbagai motif yang ada dalam jiwa dan kecenderungan-kecenderungannya kita akan menemukan bahwa kebanyakan motif utama tersebut adalah keinginan meraih kesempurnaan. Kita tidak akan menemukan seorangpun yang menyukai kekurangan pada dirinya. Manusia senantiasa berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan berbagai cela dan cacat dirinya samapi ia mendapat kesempurnaan yang diinginkan. Sebelum menghilangkan segala kekurangannya itu ia berusaha sedapat mungkin untuk menutupinya dari pandangan orang lain. Apabila motif ini berjalan sesuai dengan nalurinya yang sehat, ia akan meningkatkan kesempurnaannya, baik yang bersifat materi maupun spiritual. Namun, bila motif ini menyimpang dari jalannya yang normal – lantaran faktor-faktor dan kondisi tertentu- justru akan melahirkan sifat-sifat yang buruk seperti congkak, sombong, riya dan lain-lain.
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa ingin sempurna merupakan faktor yang kuat di dalam jiwa setiap manusia. Akan tetapi, biasanya factor ini terefleksikan dalam sikap nyata yang dapat menarik perhatian. Kalau saja direnungkan sejenak, kita akan dapat mengetahui bahwa sesungguhnya dasar dan sumber berbagai sikap lahiriah itu adalah cinta kepada kesempurnaan.
Ø Akal sebagai kesempurnaan
Sesungguhnya proses kesempurnaan dan kesempurnaan pada tumbuhan itu bersifat niscaya dan terpaksa karena tunduk dan terpenuhinya faktor dan kondisi luar diri mereka. Sebuah pohon tidak tumbuh dengan kehendaknya sendiri, ia tidak menghasilkan buah-buahan sesuai kehendaknya, karena tumbuhan tidak memiliki perasaan dan kehendak. Berbeda dengan binatang; ia memiliki kehendak dan ikhtiar itu timbul dari nalurinya semata, dimana proses dan aktivitasnya terbatas hanya pada terpenuhi kebutuhan-kebutuhan alamiah dan atas dasar perasaan yang sempit dan terbatas Adapun manusia, disamping memiliki segala kelebihan yang dimiliki tumbuhan dan hewan, iapun memiliki dua keistimewaan lainnya yang bersifat ruhani. Dari satu sisi, keinginan fitrahnya tidak dibatasi oleh kebutuhan-kebutuhan alami dan material, dan dari sisi lain ia memiliki akal yang dapat memperluas pengetahuannya sampai pada dimensi-dimensi yang tak terbatas.
Sebagaimana kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuhan itu bisa berkembang dengan perantara potensinya yang khas, juga kesempurnaan yang dimiliki oleh binatang itu dapat dicapai dengan kehendaknya yang muncul dari naluri dan pengetahuannya yang bersifat inderawi, demikian pula dengan manusia. Kesempurnaan khas manusia pada hakikatnya terletak pada ruh yang dapat dicapai melalui kehendaknya dan arahan-arahan akalnya yang sehat yaitu akal yang telah mengenal berbagai tujuan dan pandangan yang benar. Dari sini dapat kita ketahui bahwa perbuatan manusia itu sebenarnya dibentuk oleh kehendak yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan dan keinginan-keinginan yang hanya dimiliki oleh manusia dan atas dasar pengarahan akal. Adapun perbuatan yang dilakukan karena motif hewani semata-mata adalah perbuatan yang tentunya, bersifat hewani pula, sebagaimana gerak yang timbul dari kekuatan mekanik dalam tubuh manusia semata-mata merupakan gerakfisissaja.
Secara fitrah manusia memiliki kecenderungan untuk berusaha menemukan kesempurnaan insaninya dengan melakukan perbuatan-perbuatan. Akan tetapi untuk memilih perbuatan-perbuatan yang dapat menyampaikannya kepada tujuan-tujuan yang diinginkan, terlebih dahulu ia harus mengetahui puncak kesempurnaannya.
Ø MT.MisbahYazdi,
Puncak kesempurnaanya ini hanya akan dapat diketahui manakala ia telah mengenal hakikat dirinya, awal dan akhir perjalanan hidupnya. Kemudian ia harus mengetahui hubungan yang baik maupun negatif - diantara berbagai perbuatan dengan aneka ragam jenjang kesempurnaan, sehingga ia dapat menemukan jalannya yang tepat. Selama ia belum mengetahuiu dasar-dasar teoritis pandangan dunia ini, ia tidak akan dapat menemukan sistem nilai dan ideologi yang benar.
VII. Pandangan-tentang-manusiasempurna
Banyak perbedaan pendapat diantara berbagai kalangan seperti pemikir maupun filosof memandang konsep manusia sempurna
Ø Kaum filosof (Muhammad taqi mizbah yahdi)
Memandang bahwa manusia sempurna atau kesempurnaan manusia terletak pada tingkatan akal/aqliahnya dalam memahami setiap esensi keadaan. Seseorang yang sampai pada tingkatan akal yang tinggi merupakan manusia sempurna menurut M.taqi mizbah
Ø Kaum sufi ( tassawuf)
Memandang manusia sempurna dari sudut hati, kemampuan manusia untuk tidak bergantung materi, dan adanya unsur penyatuan sifat-sifat tuhan pada diri kaum sufi, dengan proses perjalanan ritual dengan olah bathin, dan merasakan kehadiran tuhan lewat hati, meskipun kaum sufi tak mampu mengungkapkan dengan bahasa apa ia alami sebagai manusia semurna. Sebuah riwayat mengatakan apabila seorang telah mencapai derajat insane kamil, maka bila ia melihat, ia akan melihat dengan mata Tuhan, dia akan mendengar dengantelinga Tuhan, dia berbicara dengan mulut Tuhan, tapi ingat bahwa telinga, mata dan bentuk antroporfisme disini bukan merupakan sebagaimana apa yang ada pada manusia.
VIII. Tugas dan tanggung jawab manusia
Manusia adalah mahkluk yang yang dibekali dengan berbagai potensi oleh tuhan, manusia tidak diciptakan begitu saja, tapi manusia adalah pemegang amanah dan pengembangan misi akan kebenaran, dan sebagai pemelihara dari alam semesta sebagaimana yang diamanahkan allah swt, dalam Al-Qur’an. Intisari dari penciptaan manusia adalah beribadah kepada allah swt, artinya bukan hanya ibadah dalam arti sempit seperti hanya shalat, puasa, tapi lebih dari itu karena amah tuhan agar manusia menjadikan semua aktivitasnya bernilai ibadah. Oleh karena sangatlah jelas bagi kita fungsi dari surga dan neraka yang diciptakan untuk kita juga karena hidup ini adalah amanah, secara logis barang siapa yang melanggar amanah itu artinya berhak mendapatkan saksi diakhir kelak, ini merupakan salah satu bukti keadilan tuhan.
Penutup
- Kesimpulan
Manusia adalah secara fitrah merupakan makhluk yang senantiasa menuju insan kamil, senantiasa menuju pada kesempurnaan, manusia juga sebenarnya makhluk yang sempurna yang diciptakan oleh Allah swt diantara makhluk ciptaan lainnya yang ada, karena segala potensi universum dan citra tuhan semua tergambar pada jiwa dan raga manusia.
Manusia merupakan citra atau bayangan dari tuhan dalam artian bukan bahwa manusia juga merupakan tuhan sebagaimana tuhan, tapi manusia sebagai khalifah dengan berbagai potensi yang dikaruniai, sehingga dapat menjadi pemelihara dari kerusakan dialam materi ini sebagaimana yang diamanahkan tuhan kepada kita semua.
Konsep manusia sempurna dapat kita lihat pada konsep masing-masing pemikir yang menekankan konsep manusia sempurna tergantung pada konsep yang ia gunakan sebagaimana pada konsep kaum filosof dan kaum sufisme dalam islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar