Selasa, 29 Desember 2009

Sifat Kedermawanan Pemuda Dalam Mengawal Sebuah Perubahan

Indonesia menangis kawan,
melihat realitas bangsa sampai hari ini, ketika realitas berbangsa
hanya diisi dengan kriminal, korupsi, penipuan dimana-mana
tapi yang paling ironis adalah realitas pergerakan sampai hari ini telah SEKARAT kawan....
kita telah asyik beronani dengan jiwa kapitalis,
disektor ekonomi, pemuda telah terjebak dlam budaya kapitalis, hedonisme, konsumerisme metrupakan bukti nyata didepan kita
sektor politik, pemuda tiada lain adalah pelengkap yang dimana-mana hanya menjilat ats kepentingan yg jelas tidak memihak kepada rakyat, mana independensi mu kawan...?
sektor budaya, juga talah menjadi problematis, budaya individualistis, dan primordialisme hingga berujung pada disintegritas

indonesia menanti kepalang tangan mu kawan,
akankah kita diam atas penindasn yg terjadi?

Dalam perspektif historis bangsa mulai saat negara ini masih dalam konteks entitas yang terpisah hingga kemudian menyatu dalam sebuah integritas dalam hal ini dengan diantara entitas yang berbeda tersebut itu kemudian mampu disatukan dengan sebuah symbol sebagai suatu kesatuan NKRI, pergulatan dan tantangan kehidupan bangsa semakin banyak hal-hal yang menjadi permaslahan bangsa saat itu. Penjajahan sebagai salah satu problema bangsa saat itu mendorong munculnya partisipasi dari kalangan pemuda untuk kemudian menyatukan visi menuju kedaulatan Negara yang berarti keinginan untuk menentukan sendiri nasib bangsa sebagai bangsa yang merdeka.

Terbukti tahun 1908 dianggap sebagai awal dari pergerakan pemuda dengan didirikannya organisasi boedi oetomo, sebagai medan para pemuda dalam mengusung sebuah perubahan bangsa, begitu pula kemudian kesatuan tersebut diperkukuh dengan diadakannya kongres sumpah pemuda 1928 sebagai moment yang menyatukan para pemuda dalam sebuah ikrar sumpah dari dipelosok nusantara. Hingga kemudian tahun diproklamsikan kemerdekaan bangsa 17 agustus 1945 tidak lepas dari inisiatif para pemuda yang dikenal dengan pristiwa Rengasdengklok sampai kemudian tergesernya soeharto sebagai pemimpin zaman ORBA itu tidak lepas dari perjuangan pemuda bangsa dalam mengusung sebuah Reformasi. Jadi seperti itulah bahwasanya secara umum ada 3 karakter yang dianggap sebagai karakter seorang pemuda yaitu jiwa idealisme yang merupakan jiwa seorang pemuda yang senantiasa bermimpi untuk kehidupan bangsa yang dianggap ideal termasuk system kehidupan berbangsa, begitupula sikap kritis pemuda berupa keinginan kuat untuk lebih mendalami sebuah masalah dan kemudian disertai dengan konsep comparative dengan analisis yang tajam dalam mengusung sebuah argumentasi rasional hingga kemudian melahirkan sebuah control bagi kehidupan negara yang erat kaitannya dengan idealisme itu sendiri, kemudian sikap yang ke tiga adalah sikap keberanian pemuda dalam hal ini berupa keberanian untuk bertindak dan mengatakan kebenaran ketika itu benar dan salah ketika itu memang salah yang terlepas dari sebuah kepentingan golongan.

Betapapun pentingnya jiwa tersebut, hal ini tidak bisa dilepaskan dari jiwa kedermawanan pemuda, dalam hal ini menurut saya ketika berbicara terkait dengan kedermawanan itu tidak hanya terkait dengan perspektif materi sebagai bentuk kedermawanan seseorang. Secara subtansial sebenarnya bisa dikatakan bahwa definisi kedermawanan suatu sikap atau tindakan seseorang dalam hal ini kebaikan yang dilandaskan pada keikhlasan tampa diinginkannya adanya pamrih. Jadi seperti itulah bahwa apapun tindakan seseorang ketika itu adalah sebuah kebaikan yang senantiasa berlandaskan pada keikhlasan maka itulah substansi dari sikap kedermawanan seseorang. Terkait antara sifat kedermawanan dengan peran pemuda dalam mengawal sebuah perubahan merupakan suatu hal yang sangat penting karena tersangkut murni atau tidaknya sebuah perubahan dalam hal ini adalah apakah kemudian perubahan yang diusung itu terlepas dari kepentingan golongan, kepentingan golongan inilah yang saya maksud sebagai sebuah tindakan yang tidak termasuk dalam kategori sifat dermawan seseorang, karena kepentingan tiada lain adalah bentuk harapan akan pamrih berarti tindakan ini bukan berdasar pada nilai – keikhlasan,sehingga yang menginspirasi sebuah perubahan itu sendiri bukan berasal dari kesadaran murni akan sebuah kepedulian akan bangsa tapi tiada lain adalah hal yang bersifat sebagai bagian dari sikap pragmatisme.

Inilah yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan bangsa, realita kepemudaan bangsa saat ini, sikap kedermawanan dalam bertindak bagi pemuda sudah semakin tersterilkan oleh kepentingan sesaat dalam hal ini adalah kepentingan golongan, kesadaran untuk berbuat tampa pamrih semakin jauh dari tataran realita yang terjadi. Sehingga bangsa sampai saat ini belum mampu menjawab segala problematika masyarakat. Meskipun kemudian agenda Reformasi yang telah dicetuskan tahun 1998 tersebut dimana moment tersebut dianggap sebagai moment Reformasi, ternyata Reformasi yang terjadi hanyalah sebatas perombakan Rezim bukan reformasi dalam arti yang sebenarnya, karena pemuda dalam hal ini benih reformasi tersebut tiada lain adalah stakeholders yang mempunyai kepentingan dalam hal ini jauh dari kesadaran penuh, sehingga kemudian jiwa idealisme sebagai karakteristik kepemudaan itu kemudian tertutupi dengan sebuah peluang akan kepentingan status dan materi, sehingga reformasi yang seharusnya disertai dengan pengawalan atas kesadaran penuh itu menjadi hal yang jauh dari harapan bangsa, sehingga sampai saat ini bangsa bahkan bisa dianggap semakin hancurnya dengan reformasinya sendiri.

Begitu pula dengan realita sekarang yang terjadi dikalangan birokrat, dalam hal ini terkait dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh badan yang berwenang bangsa ini, juga terkadang jauh dari sikap kedermawanan dalam artian terkadang dan jarang tidak, bahwasanya kebijakan oleh pemerintah terkadang hanya berorientasi pada kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan, sehingga kemudian kebijakan tersebut seolah untuk rakyat. begitupula pemuda dalam menyikapi kebijakan itu sendiri, terkadang yang menjadi tolok ukur pergerakan pemuda adalah subjektifitas dalam hal ini adalah sejalan tidaknya kebijakan tersebut dengan kepentingan subjektifitas mereka.

Jadi, seperti itulah gambaran realita ketika konsep kebertindakan pemuda tidak didasari oleh kedermawan dalam hal ini adalah keikhlasan yang terlepas dari pragmatisme dan kepentingan sesaat. Sehingga pemuda yang mempunyai peran besar dalam kehidupan berbangsa sebagai jalur lintas tengah yang menghubungkan antara masyarakat dengan pemerintah serta sebagai pihak yang seharusnya memandang sebuah masalah secara objektif yang berdasar nilai-nilai kebersamaan sehingga kemudian dapat menjadi inspirasi munculnya gagasan baru yang merupakan indikasi kepedulian terhadap bangsa. Seperti itulah bahwasanya apapun tindakan, apakah ia merupakan sebuah inspirasi perubahan tetapi ketika itu tidak dilandasi dengan nilai kedermawanan maka yang ada adalah perubahan yang tidak bermakna bagi kehidupan. Karena yang abadi hanyalah perubahan yang diinsipirasi oleh jiwa – jiwa yang berasaskan pada kemurnian kesadaran yang ada didalam jiwa-jiwa orang yang tercerahkan. (muh.ruslan/etos 08/fe-uh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar