Selasa, 29 Desember 2009

indonesia telah mati suri, dimana pemuda?

Indonesia Mati Suri, Dimana Pemuda?

Pemuda merupakan salah satu komunitas yang telah menorehkan berbagai macam warna tinta bagi perjalanan bangsa ini, dialektika perubahan yang pernah terjadi baik hitam maupun putih tidak lepas dari coretan dan intervensi kaum pemuda. Pemuda yang dikenal karena idealisme serta daya kritisme yang tinggi menjadi ruh bagi pergerakan dalam membebaskan rakyat dan bangsa dari ketertindasan. Sejarah telah membuktikan posisi pemuda disaat suasana imperealisme masih menghantui kehidupan bangsa Indonesia, organisasi boedi oetomo ( 1908 ) merupakan basis awal munculnya kontekstualisasi pergerakan yang didalangi oleh kaum muda. Hingga pristiwa 1928 yang menandai semangat integritas kaum muda dalam mengikrarkan sumpah pemuda sebagai simbol dari bentuk perlawanan secara kolektif akan penindasan yang terjadi ditubuh kaum pribumi. Hingga runtuhnya rezim soekarno, soeharto 1998 yang dikenal sebagai tonggak reformasi bangsa yakni pembebasan dari ketertindasan sistem, menjadi indikasi peranan pemuda bagi bangsa. Itulah beberapa bentuk romantika sejarah yang telah digoreskan oleh kaum pemuda dalam perjalanan kehidupan bangsa ini.

Realita bangsa Indonesia saat ini masih terombang-ambing, bagaikan negara yang belum mempunyai dasar falsafah hidup. Kehidupan berbangsa dan bernegara kini semakin jauh dari cita-cita dan harapan bangsa. Pemuda yang seharusnya menjadi social control dan agen of change, kini hanya tinggal slogan yang tak mampu memberikan spirit untuk mengawal sebuah perubahan yang berarti bagi bangsa.

Kita bisa melihat lebih jauh dalam percaturan politik bangsa, Indonesia yang dikenal sebagai negara demokrasi, tetapi demokrasi itu hanya menjadi sebuah penjustifikasian dari berbagai problema bangsa. Pemilu yang selama ini berlangsung tak pernah memperlihatkan bentuk demokrasi yang sesungguhnya, permasalahan DPT, penggelabuan suara, serta kriminalitas menjelang pemilu merupakan indikasi rill betapa jauhnya negara dari asas demokrasi. Begitupula dengan janji-janji utopia yang dijual oleh para politisi kepada rakyat tidak menjadi orientasi keberpihakan mereka terhadap rakyat. Dan yang lebih ironis, pemuda yang seharusnya berfungsi sebagai kontrol dengan berbekal keindependensian, kini justru menjadi kaki tangan dari kepentingan politik yang ada. Posisi pemuda dalam percaturan politik bangsa tiada lain hanya sebagai pelayan dari berbagai kepentingan yang berbeda. Seakan-akan pemuda hanyalah berperan sebagai pelengkap dari kehidupan politik.

Selain itu, permasalahan ekonomi bangsa semakin membengkak. Kemiskinan, pengangguran serta kriminalitas yang berkedok ekonomi merupakan hal yang tidak asing lagi bagi kita. Pembangunan ekonomi bagi pemerintah hanya dinilai dari seberapa banyak pembangunan gedung yang menjulang tinggi di perkotaan. sehingga sekolah-sekolah, pasar-pasar tradisional yang merupakan tempat bergantungnya kehidupan bagi masyarakat bawah, kini semakin hari semakin tersterilkan lewat penggusuran dengan alasan pembangunan gedung, mall, dll, yang notabene hanya dinikmati oleh segelintir orang yakni orang-orang lapisan atas. Maka inilah realita bangsa ketika kesenjangan semakin membengkak, ditengah banyaknya gedung yang menjulang tinggi, masih banyak rakyat yang menikmati hidupnya dikolom-kolom jembatan. Bangsa yang dikenal sebagai lumbung padi atas swasembada beras, tapi masih banyak rakyat yang mengais-ngais di tong sampah untuk memenuhi tuntutan perut. Belum adanya kerja rill bagi pemerintah dalam mengatasi dan memberi perhatian bagi permasalah rakyat kecil ini, negara ini kembali dikejutkan dengan munculnya benih-benih liberalisasi yang berjiwa kapitalis sebagai sistem ekonomi. Asset-asset bangsa yang seharusnya dioptimalkan untuk kepentingan rakyat, kini telah dijual kepada pihak-pihak asing yang diperhalus dalam istilah privatisasi agar rakyat kecil tidak memahaminya. Undang-undang 1945 pasal 33 tidak lagi menjadi basis orientasi kehidupan perekonomian bangsa, seberapa banyak bumi, air dan hal vital bagi kehidupan rakyat yang seharusnya dioptimalkan oleh Negara kini tengah diserahkan kepada pihak-pihak asing.

Ketika kita kembali menanyakan posisi pemuda akan permasalahan ini, pemuda yang seharusnya menjadi pembebas dalam bentuk perlawanan, justru menjadi pasif dan bahkan terjerumus dan terperangkap dalam perangkap kapitalis. Mereka hanya cenderung terbawa arus kehidupan, tertidur atau mungkin mati suri ditengah krusialnya bangsa. Hedonisme, konsumerisme sebagai pengaruh dari globalisasi ekonomi justru menjadi budaya bagi kaum pemuda bangsa saat ini.

Dalam perspektif pendidikan, pendidikan yang seharusnya merupakan wadah rakyat kecil dalam memperjuangkan nasib mereka, kini telah jauh dari harapan. Pendidikan yang dikenal sebagai hal vital bagi masyarakat, kini berubah menjadi mutiara bagi kehidupan, yang hanya mampu dinikmati oleh segelintir orang, sehingga tidak heran ketika muncul statement yang mengatakan ‘’pendidikan itu mahal’’. Selain itu paradigma pendidikan bangsa kini telah tersusupi dengan paradigma liberal, betapa banyak teori-teori yang diajarkan dosen/guru kepada muridnya adalah literatur-literatur milik kaum liberal, yang menjadi permasalahan adalah seakan-akan sistem pembelajaran yang terbangun adalah membenarkan semua teori yang ditransferkan oleh guru/dosen, dan tak pernah murid diajak untuk mengkritisi teori tapi cenderung monoton dalam membenarkan. Sehingga dimensi pendidikan yang seharusnya mendewasakan manusia dengan berbekal daya kritis bagi siswa/mahasiswa kini telah tersterilkan, maka tak heran ketika output dari pendidikan adalah melahirkan pemuda-pemuda yang berjiwa robotisme yakni pemuda yang hanya cenderung pasif dari situasi dan komando yang ada. Sehingga pemuda yang seharusnya berfungsi sebagai kontrol dalam kehidupan kini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Selain itu, realita kehidupan sosial dan budaya masyarakat, juga kini telah jauh dari nilai sosial. Masyarakat indonesia yang dikenal sebagai masyarakat dengan nilai kesusilaan, toleransi dan jiwa sosial yang tinggi kini juga telah luntur akibat hegemonisasi asing yang telah merubah pola prilaku masyarakat. Ketika kita menelusuri sejarah perlawanan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajah hingga melebur diri dengan mendasarkan diri dalam satu falsafah bersama yakni pancasila merupakan simbol jiwa sosial dan semangat toleransi yang tinggi rakyat Indonesia ditengah kemajemukan yang ada. Tapi sekarang yang terjadi justru munculnya permasalahan bangsa yang cenderung memisahkan diri dari NKRI, yang kebanyakan didalangi oleh kaum pemuda dalam melakukan pemberontakan yang berbaur separatisme. Bukan hanya itu, konflik yang berbaur SARA yang pernah terjadi di tanah air ini merupakan fakta yang justru melunturkan citra bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi jiwa toleransi.

Sampai sekarang posisi pemuda sebagai jiwa dengan idealisme dan kritistme yang tinggi, yang dikenal sebagai pembebas dan pengayom rakyat kini merupakan hal yang masih dipertanyakan keberadaannya. Pemuda dengan semangat idealisme tersebut merupakan landasan pergerakan dalam menjalankan fungsi sebagai social control, moral force serta agent of change merupakan hal yang senantiasa ditunggu oleh bangsa dan masyarakat Indonesia.


Biodata penulis

Nama : Muhammad Ruslan

Tempat/tgl lahir : wetareng/sengkang, 23 mei 1990

Alamat : BTN asal mula E6/1

Profesi : Mahasiswa/Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin

No.Hp : 081 242 186 606

E_mail : m.ruslan_hmi@yahoo.co.id

Agama : islam

Motto hidup : hidup adalah pergerakan

Peng.organisasi : HmI ( 2009-sekarang )

FOSEI ( 2009-sekarang )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar